Ibadah Etnik Maluku GKI Petrus Amban: Merawat Budaya dan Persaudaraan
MANOKWARI, 31 Oktober 2026 – Jemaat GKI Petrus Amban menyelenggarakan Ibadah Etnik Maluku dalam Ibadah Kunci Bulan Oktober pada Sabtu, 31 Oktober 2026, pukul 18.00 WIT. Mengusung tema “Transformasi Papua bagi Kemuliaan Allah”, ibadah berlangsung dalam suasana penuh sukacita, kekeluargaan, dan nuansa budaya Maluku.
Ibadah dikoordinir oleh Persekutuan Kaum Bapak (PKB) dan Persekutuan Wanita (PW) Jemaat GKI Petrus Amban, bekerja sama dengan anggota jemaat asal Maluku. Ibadah dipimpin oleh Ketua Jemaat GKI Petrus Amban, Pdt. Dr. A. N. Ayatanoi, M.Si. Teol.

Ibadah Etnik Maluku menjadi kesempatan bagi warga jemaat untuk mengungkapkan syukur kepada Tuhan sekaligus merayakan kekayaan budaya sebagai bagian dari identitas dan kehidupan persekutuan gereja. Tema “Transformasi Papua bagi Kemuliaan Allah” mengingatkan bahwa perubahan menuju kehidupan yang lebih baik perlu berakar pada iman, kasih, persaudaraan, dan penghargaan terhadap keberagaman budaya.
Suasana etnik Maluku telah terasa sejak awal ibadah melalui prosesi pembukaan yang diawali dengan tiupan triton sebanyak tiga kali dan tabuhan tifa sebanyak tiga kali. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan alunan musik Tifa Totobuang yang mengiringi tarian Lenso oleh para remaja putri. Tarian tersebut menjadi bagian dari prosesi masuk pelayan firman ke ruang ibadah, diikuti iring-iringan Majelis Jemaat yang bertugas, PKB, PW, dan keluarga Maluku yang mengenakan pakaian adat Maluku.

Prosesi pembukaan ini menghadirkan nuansa budaya Maluku yang kuat sekaligus menjadi ungkapan penghormatan terhadap tradisi yang terus hidup dalam masyarakat Maluku. Keterlibatan remaja putri, PKB, PW, dan keluarga Maluku juga memperlihatkan kebersamaan lintas generasi dalam pelayanan gereja.
Keunikan ibadah semakin terasa melalui puji-pujian jemaat yang dinyanyikan dalam bahasa daerah dari beberapa suku asli Maluku, antara lain Ambon, Kei, Tanimbar, Dobo, dan Tobelo. Nyanyian-nyanyian tersebut diiringi oleh Tim Terompet pemuda Maluku yang turut memperkaya suasana peribadahan dengan nuansa musik khas Maluku.

Selain puji-pujian jemaat, ibadah juga dimeriahkan dengan persembahan pujian dalam bentuk solo, vocal group, dan kuartet yang membawakan lagu-lagu rohani berbahasa Maluku. Berbagai penampilan tersebut menjadi wujud keterlibatan warga jemaat dalam pelayanan sekaligus memperlihatkan bahwa seni dan budaya dapat menjadi sarana untuk memuliakan Tuhan.
Salah satu bagian penting dalam ibadah adalah persembahan etnik berupa makanan-makanan tradisional Maluku. Persembahan tersebut diantar oleh keluarga-keluarga serta perwakilan PKB dan PW menuju altar. Prosesi persembahan syukur ini diiringi Tarian “Pete Cengkeh” yang dibawakan oleh tim tari remaja putri, menambah kekayaan nuansa budaya Maluku dalam ibadah.

Persembahan etnik tersebut menjadi ungkapan syukur kepada Tuhan atas berkat dan pemeliharaan-Nya. Selain itu, tradisi ini mencerminkan nilai kebersamaan, keramahtamahan, dan rasa syukur yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Maluku.
Dalam rangkaian ibadah, jemaat juga mendoakan seluruh anggota jemaat yang berulang tahun pada bulan Oktober. Doa bersama ini menjadi ungkapan perhatian dan kasih persaudaraan gereja kepada setiap warga jemaat, sekaligus mengingatkan bahwa setiap pertambahan usia merupakan anugerah Tuhan yang patut disyukuri.

Ibadah Etnik Maluku ditutup dengan menyanyikan lagu “Gandong” secara bersama-sama. Lagu yang dikenal sebagai simbol persaudaraan masyarakat Maluku ini menghadirkan suasana haru dan kebersamaan, sekaligus menegaskan pesan tentang pentingnya menjaga ikatan persaudaraan, saling mengasihi, dan hidup dalam damai.
Tema “Transformasi Papua bagi Kemuliaan Allah” menemukan maknanya dalam semangat kebersamaan yang ditampilkan sepanjang ibadah. Transformasi tidak hanya berkaitan dengan perubahan pembangunan dan kehidupan sosial, tetapi juga dengan pembaruan sikap, penguatan persaudaraan, penghargaan terhadap keberagaman, serta kesediaan untuk hidup saling menopang sebagai satu keluarga dalam Kristus.
Pelaksanaan Ibadah Etnik Maluku ini tidak hanya menjadi ruang untuk menampilkan kekayaan budaya, tetapi juga menjadi sarana mempererat persekutuan di tengah keberagaman warga Jemaat GKI Petrus Amban. Melalui bahasa, musik, tarian, pakaian adat, dan makanan tradisional, warga jemaat diajak untuk terus menghargai warisan budaya sekaligus menjadikannya bagian dari pelayanan dan kesaksian iman.

Kegiatan ini juga memperlihatkan pentingnya peran PKB, PW, pemuda, remaja, dan keluarga dalam menjaga serta meneruskan nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya. Kebersamaan lintas generasi dalam ibadah menjadi bukti bahwa budaya dapat terus hidup dan berkembang dalam terang iman Kristen.
Melalui Ibadah Etnik Maluku, Jemaat GKI Petrus Amban meneguhkan semangat persaudaraan dalam Kristus. Keberagaman budaya bukanlah pemisah, melainkan kekayaan yang mempererat hubungan antarsesama dan menjadi kekuatan dalam mewujudkan transformasi kehidupan di Papua bagi kemuliaan Allah.
Dengan semangat “Gandong”, seluruh warga jemaat diajak untuk terus merawat persaudaraan, menghargai keberagaman, dan bersama-sama membangun kehidupan gereja serta masyarakat Papua yang rukun, penuh kasih, dan menjadi berkat bagi sesama. (TFP)
